MANADO,Narasindo.com – Musyawarah Kota (Muskot) PBSI Kota Manado yang digelar di Hotel Lagoon Manado, Rabu (17/12/2025), menuai penolakan keras dan berakhir ricuh.
Sejumlah Ketua Pengurus Bulutangkis (PB) menilai Muskot tersebut diduga kuat disetting oleh Pengprov PBSI Sulawesi Utara, sarat rekayasa, serta mencederai prinsip demokrasi organisasi.
Pantauan media ini di lokasi, sejak awal pelaksanaan suasana sudah tegang. Peserta resmi yang memiliki hak suara justru dicegah masuk ke ruang Muskot, sementara panitia mengarahkan mereka untuk “berunding” di luar ruangan.
Negosiasi di luar ruangan itu dipimpin langsung oleh Sekretaris Umum PBSI Sulut, Donald K. Monintja
Namun, belakangan para Ketua PB merasa dibohongi. Saat diskusi di luar ruangan berlangsung, tahapan Muskot ternyata sudah berjalan di dalam ruangan.
Menyadari hal tersebut, para peserta resmi spontan meninggalkan meja perundingan dan berusaha menerobos masuk.
Ketua PB Pioner, Albert Wales, dengan nada tinggi memprotes keras.
“Ini pembohongan! Kami dibohongi. Dibilang Muskot belum jalan, ternyata di dalam tahapan sudah berjalan!” teriaknya.
Kemarahan peserta kian memuncak ketika mereka mendapati kursi dan meja yang telah diberi papan nama klub peserta resmi justru ditempati orang-orang yang tidak dikenal.
Sejumlah pihak yang berada di dalam ruangan diduga merupakan mahasiswa yang menyamar sebagai ketua klub bulutangkis.
Situasi pun pecah. Adu mulut tak terhindarkan. Ketua PB Nausad, Rahmat Pakaya, dengan lantang mempertanyakan keabsahan peserta.
“Ada apa ini? Siapa-siapa orang ini? Adik-adik silakan keluar. Ini bukan kuliah, ini musyawarah!” ujarnya di tengah kericuhan.
Para Ketua PB menilai tindakan tersebut sebagai bentuk manipulasi terbuka untuk menggugurkan hasil Muskot 8 Oktober 2025 yang sebelumnya telah memilih Mahmud Turuis sebagai Ketua PBSI Kota Manado, namun hingga kini belum disahkan Pengprov PBSI Sulut.
Mereka menuding Pengprov PBSI Sulut sebagai aktor utama Muskot tandingan yang digelar tanpa dasar hukum jelas, minim transparansi, dan mengabaikan hak klub aktif.
Dalih penonaktifan sejumlah PB dinilai sepihak, tidak pernah disosialisasikan, serta digunakan sebagai alasan pembenaran untuk mengulang Muskot.
Kericuhan akhirnya memaksa agenda Muskot dihentikan sementara. Aparat kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sejumlah Ketua PB menyatakan kekecewaan mendalam dan mendesak Pengurus Pusat PBSI turun tangan memberikan kejelasan hukum. Mereka juga menyoroti peran Sekum PBSI Sulut, Dr. Donald K. Monintja, yang diketahui berprofesi sebagai dosen di Unsrat Manado, agar menjunjung etika dan integritas dalam mengelola organisasi olahraga.
“Kalau cara-cara seperti ini dibiarkan, pembinaan bulutangkis di Manado yang jadi korban,” tegas Idham Adrias dari PB Sinar Pelita
Hingga berita ini diturunkan, polemik belum mereda. Para peserta resmi menegaskan penolakan terhadap Muskot yang mereka sebut “setingan”, dan menuntut pembatalan total serta pemulihan legitimasi hasil Muskot yang sah.








