MANADO,Narasindo.com – Bukan uang, bukan juga barang. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus justru menghadirkan “hadiah” yang lebih bernilai jangka panjang bagi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2025.
Para pelajar terbaik ini dijanjikan peluang masuk perguruan tinggi ikatan dinas, seperti Akademi Militer (Akmil), Akademi Kepolisian (Akpol), hingga Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Strategi ini menjadi langkah berbeda dari kebiasaan banyak pemerintah daerah yang identik memberikan bonus uang tunai. Yulius menegaskan, penghargaan yang diberikan bukan sebatas simbolis atau sesaat, melainkan investasi masa depan.
“Penghargaan kami bukan sekadar uang atau barang, tetapi ‘kail’ untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi. Kedisiplinan, keberanian, dan integritas yang kalian tunjukkan adalah bekal emas untuk menjadi pemimpin bangsa,” ujar Yulius dalam acara penyerahan penghargaan di Kantor Gubernur Sulut, belum lama ini.
Untuk memastikan janji ini berjalan, Pemprov Sulut menggandeng Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebagai koordinator utama.
Melalui lembaga tersebut, Paskibraka akan mendapat fasilitas bimbingan belajar intensif, pendampingan, hingga asistensi dalam seluruh proses pendaftaran ke sekolah kedinasan.
Kebijakan “out of the box” ini pun sontak mendapat sambutan positif, terutama dari kalangan Paskibraka sendiri. Bianca Lantang, pembawa baki Bendera Pusaka di Istana Merdeka, menyebut langkah Pemprov Sulut sangat berarti.
“Dukungan ini sangat berarti karena membuka jalan bagi kami untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengabdi kepada negara,” kata Bianca dengan penuh semangat.
Di tengah sorotan publik soal perbandingan bentuk apresiasi di media sosial, Yulius memilih tetap konsisten dengan gagasan memberi kail, bukan ikan.
Pemprov Sulut menilai jalur khusus ini mampu mencetak generasi unggul yang siap mengemban tanggung jawab nasional.
Dengan pendekatan ini, pengalaman menjadi Paskibraka di Sulut bukan lagi sekadar kebanggaan sesaat di hari kemerdekaan.