MANADO,Narasindo.com – Polemik pengoperasian Bus Trans Manado atau Bus Buy The Service (BTS) yang dihadirkan Pemerintah Kota Manado melalui Dinas Perhubungan terus menuai perhatian publik.
Di satu sisi, kehadiran transportasi publik modern ini mendapat respons sangat positif dari masyarakat karena dinilai nyaman, aman, dan terjangkau. Namun di sisi lain, penolakan keras datang dari komunitas sopir angkutan mikrolet yang merasa terancam mata pencahariannya.
Bahkan dalam beberapa hari terakhir, aksi penolakan sempat memanas. Sejumlah armada bus BTS dihadang dan dipaksa berhenti saat beroperasi.
Tak hanya itu, para sopir mikrolet juga menggelar aksi demo damai di Kantor Wali Kota Manado sebagai bentuk protes atas beroperasinya bus tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Manado, Mona Claudya Kloer, angkat suara. Politisi perempuan yang kini menjalani periode ketiga di lembaga legislatif itu menilai situasi ini sebagai hal yang wajar dalam dinamika pembangunan perkotaan.
“Terkiat dengan demo sopir mikrolet beberapa waktu lalu, saya rasa ini merupakan hal yang sangat wajar jika terjadi. Saya secara pribadi menghargai tuntutan dan kekhawatiran para sopir mikrolet yang menggantungkan harapan mereka pada profesi yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun,” ujar Mona.
Namun di sisi lain, legislator yang dikenal sebagai kader terbaik Partai Gerindra Sulut dan kini menjabat Bendahara DPD Partai Gerindra Sulut di bawah kepemimpinan Ketua DPD sekaligus Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, ini juga menegaskan bahwa kehadiran Bus Trans Manado tidak bisa disalahkan begitu saja.
“Keberadaan bus trans ini juga merupakan hasil dari campur tangan pemerintah kota melalui Pak Wali Kota Manado. Sekarang masyarakat bisa menikmati moda transportasi baru yang nyaman dan ekonomis. Ini tentu harus disambut secara positif agar kota ini semakin maju dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi,” tegasnya.
Menurut Mona, persoalan ini pada dasarnya adalah soal pilihan masyarakat. Masyarakat berhak menentukan mode transportasi mana yang ingin mereka gunakan, tanpa harus ada tekanan atau konflik di lapangan.
“Ini juga soal pilihan. Pilihan ada di tangan masyarakat Kota Manado. Semua pihak harus berbenah, bukan hanya sopir angkutan umum, tapi juga pemerintah kota agar mampu menyikapi tuntutan dan aspirasi para sopir mikrolet,” katanya.
Lebih jauh, Mona mendorong agar angkutan mikrolet juga ikut bertransformasi mengikuti tuntutan zaman. Mulai dari aspek kenyamanan, kebersihan hingga kelayakan kendaraan bagi penumpang.
“Kalau mau tetap eksis, mikrolet juga harus mampu menawarkan kenyamanan, kebersihan, dan kelayakan bagi pengguna. Saya rasa transportasi umum di Kota Manado ini bisa berjalan beriringan, karena masing-masing punya pangsa pasar sendiri,” jelasnya.
Ia optimistis, kehadiran Bus Trans Manado tidak serta-merta akan mematikan angkutan konvensional, selama semua pihak mau saling berbenah dan beradaptasi.
“Tidak perlu terlalu khawatir akan ada imbas negatif dari penambahan mode transportasi baru. Saya yakin pemerintah akan menyikapi persoalan ini dengan arif dan bijaksana, serta memberikan solusi yang adil bagi semua pihak,” tutup Mona.














