SEJARAH KAMPUNG DAN GEREJA KARAME: Dari Suara Masamper di Tepi Kali Tondano Tahun 1935–1947

Oleh: Iverdixon Tinungki

Di tahun-tahun yang lama itu, aroma payau kali Tondano terhidu bersama wangi pelepah kelapa yang terbakar matahari di utara Manado.

Di atas tanah Eigendom Verponding No. 262A seluas tiga hektare ini, hidup beberapa pasang kaki yang melangkah jauh dari gugusan pulau Nusa Utara.

Tahun 1935, mereka menancapkan takdir baru di perkebunan kelapa ini—bekerja, berteduh, dan merawat rindu pada kampung halaman.

Orang-orang Sangihe Talaud tidak pernah bisa dipisahkan dari riuh. Di sela-sela penat memanen kelapa, malam-malam mereka hidupkan dengan entakan kaki Empat Wayer dan harmoni vokal Masamper.

Suasana perkebunan yang sunyi itu pun berubah. Warga sekitar mulai menyebutnya “Keramene”—sebuah dialek Sangihe untuk menggambarkan tempat yang selalu ramai.
Lidah zaman kemudian menyerapnya menjadi satu nama: Karame.

Namun, bagi para perantau ini, keramaian sejati adalah ketika mereka berserah kepada Sang Pencipta. Sebagai penganut Kristen Protestan yang taat, persekutuan adalah napas.

Di bawah keteduhan gubuk perkebunan, Bapak Nataniel Sayang Antameng mulai mengumpulkan warga. Ibadah syukuran hingga penghiburan duka bergema di bawah pimpinannya.

Uniknya, setiap Minggu pagi, mereka rela berjalan jauh menuju Gereja Tikala, Gereja Singkil, atau Gereja Centrum demi mengecap sakramen.

Titik balik spiritual terjadi pada tahun 1937. Kerinduan mereka bersambut ketika GMIM Jemaat Singkil Sindulang merangkul para pemukim Karame.

Nataniel Sayang Antameng dan Permenas Hanibe diteguhkan sebagai pelayan gereja pertama.
Sejak hari itu, pemukiman yang riuh itu resmi diakui sebagai salah satu Kolom di bawah payung GMIM Singkil Sindulang.

Desing peluru dan deru pesawat Perang Dunia II pada tahun 1943 memutus kedamaian Karame. Perkebunan kelapa yang riuh itu ditinggalkan; warganya terpaksa mengungsi ke pedalaman Mayondi.

Namun, iman tidak mengenal kata evakuasi. Di bawah atap-atap darurat Mayondi, di tengah ketakutan perang, doa-doa dan puji-pujian kepada Tuhan tetap dinaikkan secara sembunyi namun teguh.

Ketika badai perang mereda pada kisaran 1945 hingga 1946, mereka kembali ke Karame yang menyisakan puing.

Fisik perkebunan mungkin berubah, tetapi ritme ibadah tidak boleh mati. Pola baru pun terbentuk: Minggu pagi mereka berjalan kaki ke Gereja Singkil, dan Minggu sore mereka berkumpul di kehangatan ruang tamu keluarga Bawole-Kantoor untuk bersekutu.

Di rumah itulah, pada malam benderang 24 Desember 1947, untuk pertama kalinya perayaan Natal Yesus Kristus digelar dengan khidmat di tanah Karame.

Seiring waktu, tiang iman kian kokoh. Tahun 1948, ibadah sore bergeser ke rumah keluarga Antameng-Kaghiope. Pelayanan diperkuat dengan hadirnya Yacob Timbowo dan Ibu Ida Pilato, disokong oleh Andreas Robert Daud yang bertindak sebagai kompas penasihat jemaat dan masyarakat.

Tahun 1954 menjadi tonggak fisik yang bersejarah. Di atas tanah yang disumbangkan dengan hati ikhlas oleh keluarga Balowahani-Seba dan keluarga Makaliwuge, sebuah rumah ibadah sederhana didirikan.

Di tanah inilah, gedung megah GMIM Maranatha Karame hari ini berdiri.

Namun, kedewasaan iman selalu diuji oleh dinamika manusiawi. Pada tahun 1959, benturan paham sempat terjadi antara Hukum Tua Desa Wawonasa, Bapak Hendrik Papendang, dan Guru Jemaat Bapak Nathaniel Antameng.

Ketegangan sempat mengancam persatuan, sebelum akhirnya Pendeta Hendrik Dandel dari Gereja Singkil bersama Walikota Manado turun tangan, merajut kembali benang-benang persaudaraan yang sempat merenggang.

Pertumbuhan jemaat Karame ibarat pohon kelapa yang subur; akarnya makin dalam, cabangnya makin melebar.

Dinamika ini dimulai sejak tahun 1950, ketika warga di sebelah timur desa—yang dikenal sebagai Kampung Irian Tebu—membangun tempat ibadah bersahaja di tepi Kali Tondano.

Pada tahun 1954, wilayah ini secara resmi dimekarkan menjadi dua kutub pelayanan: Jemaat Karame dan Jemaat Irian Tebu. Setahun berselang, tempat ibadah Irian Tebu direnovasi menjadi sebuah Kanisa dengan Penatua S. Luas serta Syamas Ibu Pusung-Tamapipe dan Bapak Bimbanaung sebagai motor pelayanannya.

Gelombang transmigrasi lokal juga memperluas wilayah iman. Masih di tahun 1955, sebanyak 30 Kepala Keluarga dari Kampung Kelapa Tujuh Sindulang bermigrasi ke kampung Mahakam, melahirkan Kolom Mahakam di bawah pelayanan Penatua N. Selang dan Syamas Harimisa.

Hari yang dinanti-nanti itu akhirnya tiba pada 23 Juli 1963. Setelah pembangunan gedung gereja rampung di bawah kepemimpinan panitia Bapak Hendrik Papendang, Sinode GMIM mengetuk palu sejarah: Jemaat Maranatha Karame resmi dinyatakan mandiri, lepas dari Jemaat Bethani Singkil Sindulang.

Struktur Majelis Jemaat pertama pun terbentuk dengan Pnt. N.S. Antameng sebagai Ketua, didampingi Pnt. Manuel Sondang, Pnt. Yohanes Daud, dan Pnt. F.P. Makaliwuge.

Estafet kepemimpinan terus bergulir dari dekade ke dekade (1970–1982) di bawah ketokohan Pnt. Manuel Sondang. Jemaat tidak hanya membangun rohani, tetapi juga mencerdaskan bangsa dengan meresmikan SD GMIM 36 Karame pada 21 April 1978 oleh Walikota A.A. Pelealu.

Tepat di usia jemaat yang ke-15 pada 27 Juni 1978, sebuah visi besar dicanangkan: membangun gedung gereja baru yang lebih representatif.

Panitia yang dipimpin Pnt. Zeth Walo bekerja bahu-membahu hingga bangunan itu diresmikan dengan penuh haru pada 23 Desember 1981 oleh Pdt. Lintong, S.Th.

Kemandirian Maranatha Karame pada akhirnya melahirkan kemandirian jemaat-jemaat baru:
Pada 6 Februari 1983: Kolom VIII Mahakam mekar menjadi Jemaat GMIM Hosana Wawonasa. 29 Maret 1994: Kolom 5 dan 6 Irian Tebu dilepas menjadi Jemaat GMIM Diaspora Karame, diresmikan langsung oleh Ketua Sinode Pdt. Kelly Rondo, S.Th.

Memasuki era 1980-an, corak pelayanan di GMIM Maranatha Karame mulai bertransformasi dengan kehadiran para teolog organik.

Setelah kepemimpinan Pnt. August Willem Pontororing (1982–1986), Sinode GMIM menempatkan Pdt. Edwin Raemond John Regar, S.Th, yang kemudian resmi menjabat sebagai Ketua Jemaat definitif pada periode 1986–1994.

Sejarah baru tertulis pada 10 November 1991. Untuk pertama kalinya, tongkat kepemimpinan altar Maranatha Karame diserahkan kepada seorang pendeta perempuan, Pdt. Ny. Babes Frederika Maria Marentek-Tombokan, S.Th.

Di bawah sentuhan keibuannya yang tegas, jemaat melewati fase pemekaran Jemaat Diaspora pada tahun 1994, meninggalkan 6 kolom pelayanan yang tetap solid.

Gereja ini juga menjadi rahim bagi lahirnya pendeta-pendeta muda. Di periode ini, Vicaris Ny. Aula Merlyn Takasenseran-Elias, S.Th ditempa hingga diteguhkan menjadi pendeta penuh pada tahun 1997 oleh Sekretaris Sinode Pdt. Nico Gara, MA, disusul kedatangan Vicaris Meike Kanta Tarore, S.Th.

Memasuki milenium baru, kepemimpinan silih berganti membawa berkatnya masing-masing: Periode 1999–2003: Dipimpin oleh Pdt. S.F.C.C. Bawole, S.Th. Periode 2004–2009: Dipimpin oleh Pdt. Ny. S. Langi-Angel, S.Th, di mana jemaat kembali berkembang menjadi 7 kolom.
Periode 2010–2021: Menjadi era konsolidasi panjang di bawah kepemimpinan Pdt. Ny. Hetty Kasdi-Karoles, S.Th. Selama tiga periode berturut-turut, bersama Pnt. Ir. Bernard Lensun, Pnt. Drs. Olniu Ma’i, dan Sym. Ny. Makaluas-Bawole, S.Pd, mereka menavigasi jemaat yang kini telah tumbuh mekar menjadi 8 Kolom.

Dari sebidang tanah perkebunan kelapa milik beberapa keluarga perantau Nusa Utara di tahun 1935, GMIM Maranatha Karame telah bertransformasi menjadi sebuah monumen iman yang hidup.

Riuh Masamper yang dahulu memecah kesunyian pinggiran Kali Tondano kini telah bermutasi menjadi madah syukur kolektif jemaat yang mandiri, tangguh, dan terus berbuah bagi pelayanan. (*)

Sumber: Sejarah Gereja GMIM Maranatha Karame.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *