MINAHASA,Narasindo.com – Ketua Umum Laskar Manguni Indonesia (LMI), Pdt Hanny Pantouw, kembali menegaskan perannya sebagai tokoh sentral toleransi dan perekat kebhinekaan di Sulawesi Utara melalui kegiatan Silaturahmi Bersama Tokoh dan Organisasi Masyarakat Islam se-Sulawesi Utara.
Kegiatan yang dikemas dalam semangat menyambut tahun baru ini berlangsung di Graha Harmagedong, Tateli, Kabupaten Minahasa, Minggu 4 Januari 2026
Silaturahmi tersebut menjadi ruang dialog lintas iman yang sarat pesan moderasi beragama, kebersamaan, dan persaudaraan.
Kehadiran para tokoh agama, pimpinan ormas Islam dan Kristen, serta unsur pemerintah daerah mempertegas komitmen bersama menjaga Sulawesi Utara sebagai daerah yang aman, rukun, dan harmonis di tengah keberagaman.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay, yang mewakili Pemerintah Provinsi Sulut, bersama sejumlah pemangku kepentingan strategis.
Dalam sambutannya, Wagub menekankan pentingnya konsistensi perilaku sosial yang menjunjung tinggi kebhinekaan sebagai fondasi persatuan.

“Ini merupakan bagian dari pemantapan perilaku dan income kita untuk terus meraba dan menjaga kebhinekaan kita dalam keesaan didalam kesatuan dan kebersamaan,” ujar Victor Mailangkay.
Ia menambahkan, perbedaan yang ada di tengah masyarakat bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.
“Kita lahir dan hidup berbeda adalah giften dari Yang Maha Kuasa, tapi kita memiliki tugas bagaimana perbedaan ini kita eratkan menjadi satu,” lanjutnya.
Menurut Wagub, praktik toleransi yang hidup dan bertumbuh di Sulawesi Utara tidak lepas dari peran aktif para tokoh agama dan pimpinan ormas.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Sulut memberikan apresiasi khusus atas upaya-upaya yang konsisten memperkokoh persatuan.
“Dan ini telah dilakukan oleh para tokoh agama dan ormas di Sulawesi Utara. Oleh sebab itu, saya atas nama Pemerintah Provinsi memberikan apresiasi kepada upaya yang memperkokoh persatuan dan kesatuan antara kita,” ungkapnya, seraya menyoroti peran Pdt Hanny Pantouw sebagai figur yang selama ini konsisten merawat ruang-ruang dialog lintas iman.
Sementara itu, Pdt Hanny Pantouw dalam pernyataannya menegaskan bahwa toleransi yang terbangun di Manado dan Sulawesi Utara merupakan aset bersama yang harus dijaga secara kolektif.
“Kota Manado bahkan Sulawesi Utara sudah menjadi wilayah paling toleran di Indonesia. Ini menjadi milik kita bersama. Maka dari itu, mari kita pererat persaudaraan untuk terus menjaga hal itu,” tegas Hanny Pantouw.
Ia menekankan bahwa silaturahmi lintas agama bukan sekadar seremoni, tetapi wujud nyata komitmen moral dan spiritual untuk merawat Indonesia dari daerah, dimulai dari Sulawesi Utara.
Konsistensi tersebut pula yang mengantarkan Pdt Hanny Pantouw kerap menerima berbagai penghargaan di tingkat nasional sebagai tokoh toleransi dan penggerak moderasi beragama.
Dalam berbagai kesempatan, Hanny Pantouw dikenal aktif membangun jembatan dialog antarumat beragama, merangkul seluruh elemen tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan golongan.
Karena peran itulah, ia kerap dijuluki sebagai “Bapak Toleransi Sulawesi Utara”, sebuah predikat yang tumbuh dari praktik nyata, bukan sekadar simbolik.
Kegiatan silaturahmi ini turut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulut Ulyas Taha, Kaban Kesbangpol Sulut Johnny Suak, Anggota DPRD Sulut Amir Liputo, Kapolres Manado AKBP Irham Halid, Dandim 1309/Manado Kolonel Arh Yosip Brozti Dadi, Habib Umar bin Toha Alhabsyi, perwakilan MUI Sulut, Ansor, BKPRMI, serta sejumlah ormas dan tokoh agama Kristen dan Islam dari berbagai wilayah di Sulawesi Utara.
Melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan dan moderasi beragama kembali diteguhkan sebagai identitas Sulawesi Utara, daerah yang terus merawat perbedaan sebagai kekuatan, dan menjadikannya fondasi persatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.














